Kimia Dasar

Kimia adalah ilmu tentang materi dan perubahannya. Materi ini membangun fondasinya dari awal sampai siap dipakai di farmasi: pengukuran, atom, ikatan, tata nama, mol dan stoikiometri, larutan, gas, kesetimbangan, asam basa, redoks, kimia organik, hingga inti atom, gaya fundamental, dan dasar kuantum.

Mol1 mol = 6,022 140 76 × 10²³ entitas (eksak).
Kekekalan massaJumlah tiap atom sama sebelum dan sesudah reaksi.
Hukum periodikSifat unsur berulang menurut nomor atomnya.
pHpH = −log a(H⁺), dipakai untuk menilai keasaman larutan.
Atom model Bohrunsur nomor atom 1 sampai 36
seret untuk memutar, elektron per kulit
Unsur–
Massa atom relatif–
Elektron valensi–

01

Materi, pengukuran & satuan

Materi adalah segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Materi digolongkan menjadi zat murni dan campuran. Zat murni terdiri atas unsur (tidak dapat diurai menjadi zat lebih sederhana dengan cara kimia) dan senyawa (dua unsur atau lebih berikatan dengan perbandingan tetap). Campuran bisa homogen (larutan, seragam sampai tingkat molekul) atau heterogen (fasa-fasanya terlihat berbeda).

GolonganCiriContoh
UnsurSatu jenis atomO₂, Fe, Na, S₈
SenyawaBeberapa unsur, perbandingan tetap, dipisah dengan reaksi kimiaH₂O, NaCl, C₆H₁₂O₆
Campuran homogenSatu fasa, komposisi dapat bervariasiLarutan garam, udara, sirup obat
Campuran heterogenLebih dari satu fasaSuspensi obat, pasir dan air

Perubahan fisika tidak mengubah identitas zat (es mencair, garam larut). Perubahan kimia menghasilkan zat baru dengan sifat berbeda (besi berkarat, nasi menjadi glukosa saat dicerna). Tanda-tandanya: gas, endapan, perubahan warna, atau perubahan energi yang jelas, tetapi tidak satu pun sendirian cukup untuk membuktikannya.

Sistem Satuan Internasional (SI)

Ilmu kimia bersandar pada pengukuran, dan pengukuran bersandar pada satuan yang disepakati. SI memiliki tujuh besaran pokok. Sejak 2019, semua satuan dasar didefinisikan lewat nilai tetap konstanta alam, termasuk mol lewat konstanta Avogadro NA = 6,022 140 76 × 10²³ mol⁻¹ dan kelvin lewat konstanta Boltzmann kB = 1,380 649 × 10⁻²³ J K⁻¹ (BIPM, 2019).

BesaranSatuan SILambang
Panjangmeterm
Massakilogramkg
Waktusekons
Arus listrikampereA
Suhu termodinamikakelvinK
Jumlah zatmolmol
Intensitas cahayakandelacd

Awalan yang sering dipakai: giga (G, 10⁹), mega (M, 10⁶), kilo (k, 10³), desi (d, 10⁻¹), senti (c, 10⁻²), mili (m, 10⁻³), mikro (µ, 10⁻⁶), nano (n, 10⁻⁹), piko (p, 10⁻¹²). Satuan turunan yang lazim: volume dalam liter (1 L = 1 dm³ = 10⁻³ m³), tekanan dalam pascal, energi dalam joule, dan massa jenis dalam g/mL.

T(K) = T(°C) + 273,15     ρ = mVskala Celsius dan kelvin memiliki besar derajat yang sama; ρ air pada 4 °C ≈ 1,000 g/mL

Ketelitian, ketepatan, dan angka penting

Ketepatan (accuracy) menyatakan seberapa dekat hasil ukur dengan nilai sebenarnya. Ketelitian (precision) menyatakan seberapa dekat hasil ukur berulang satu sama lain. Angka penting mencerminkan ketelitian alat. Aturan menghitung angka penting:

AturanContohAngka penting
Angka bukan nol selalu penting1,2344
Nol di antara angka bukan nol penting10024
Nol di depan tidak penting0,00452
Nol di belakang dan di belakang koma penting2,3004
Nol di belakang tanpa koma ambigu; gunakan notasi ilmiah1,50 × 10³3

Saat menjumlah atau mengurang, hasilnya mengikuti jumlah tempat desimal terkecil. Saat mengalikan atau membagi, hasilnya mengikuti jumlah angka penting terkecil. Angka eksak (misalnya 12 butir, 1 kg = 1000 g) tidak membatasi hasil.

Konverter satuananalisis dimensi
Hasil–

Angka penting dan pembulatan
Angka penting–
Notasi ilmiah–
Pembulatan–
02

Atom & tabel periodik

Atom terdiri atas inti yang padat (proton bermuatan +1 dan neutron netral) dan elektron bermuatan −1 yang menempati ruang di sekitarnya. Massa proton dan neutron hampir sama (sekitar 1 u), sedangkan massa elektron sekitar 1/1836 massa proton. Nomor atom Z adalah jumlah proton dan menentukan identitas unsur; nomor massa A = Z + N (jumlah proton ditambah neutron). Atom netral memiliki elektron sebanyak proton; ion terbentuk bila jumlahnya tidak sama.

Isotop adalah atom sebuah unsur dengan jumlah neutron berbeda. Massa atom relatif yang tercantum pada tabel periodik adalah rata-rata terbobot kelimpahan isotop alami. Klorin, misalnya, 75,76% 35Cl (34,969 u) dan 24,24% 37Cl (36,966 u):

Ar(Cl) = 0,7576 × 34,969 + 0,2424 × 36,966 = 35,45nilai standar IUPAC yang dibulatkan (Prohaska dkk., 2022)

Struktur elektron

Model mekanika kuantum menggambarkan elektron lewat orbital, daerah ruang dengan peluang tertinggi menemukan elektron. Setiap elektron dicirikan empat bilangan kuantum: n (kulit, 1, 2, 3, ...), l (subkulit: 0 = s, 1 = p, 2 = d, 3 = f), ml (orientasi orbital), dan ms (spin, ±½). Subkulit s memuat 1 orbital (2 elektron), p memuat 3 (6 elektron), d memuat 5 (10), dan f memuat 7 (14).

Aturan pengisianIsi
AufbauElektron mengisi orbital dari energi terendah: 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p 5s 4d 5p 6s ...
Larangan PauliTidak ada dua elektron dalam satu atom dengan keempat bilangan kuantum sama; satu orbital maksimum 2 elektron berspin berlawanan
HundOrbital berenergi sama diisi satu-satu dengan spin sejajar lebih dahulu

Dua pengecualian yang sering muncul pada periode 4: kromium [Ar] 3d⁵ 4s¹ dan tembaga [Ar] 3d¹⁰ 4s¹, karena subkulit d setengah atau penuh sedikit lebih stabil. Elektron valensi adalah elektron pada kulit terluar (untuk golongan utama) dan menentukan sifat kimia.

Tabel periodik dan keperiodikan

Unsur disusun menurut nomor atom dalam periode (baris, 1–7) dan golongan (kolom, 1–18). Unsur segolongan memiliki konfigurasi elektron valensi sama sehingga sifatnya mirip. Blok s, p, d, dan f ditentukan oleh subkulit yang terakhir terisi. Tren utama untuk golongan utama:

SifatMelintasi periode (kiri ke kanan)Menuruni golongan
Jari-jari atomMengecil (muatan inti efektif naik)Membesar (kulit bertambah)
Energi ionisasiCenderung naikTurun
KeelektronegatifanNaikTurun
Sifat logamTurunNaik
Tabel periodik dan trenunsur 1 sampai 36

Arahkan atau ketuk sebuah unsur untuk melihat rinciannya.

Puncak pada gas mulia dan lembah pada logam alkali pada grafik energi ionisasi adalah ciri keperiodikan. Nilai berasal dari literatur (Pauling, 1960; Cordero dkk., 2008; NIST).

Di balik inti atom
Gaya yang mengikat proton dan neutron, peluruhan beta dan alfa, serta dasar kuantum orbital dibahas di Bab 12. Dasar orbital 3D ada pada bagian kuantum bab itu.
03

Ikatan & geometri molekul

Atom berikatan untuk mencapai susunan elektron yang lebih stabil, sering kali delapan elektron valensi (kaidah oktet; hidrogen mencapai dua). Ada tiga jenis ikatan utama:

IkatanTerbentuk antaraCaraCiri
IonikLogam dan nonlogamPerpindahan elektron, tarikan elektrostatikPadatan kristal, titik leleh tinggi, menghantar listrik saat lebur atau larut
KovalenNonlogam dan nonlogamPemakaian bersama pasangan elektronMolekul diskret atau jaringan; titik leleh umumnya lebih rendah
LogamAtom logamElektron valensi terdelokalisasiMenghantar listrik dan panas, dapat ditempa

Selisih keelektronegatifan (ΔEN) kira-kira menentukan karakter ikatan: di bawah 0,4 kovalen nonpolar, 0,4 sampai 1,7 kovalen polar, dan di atas 1,7 cenderung ionik. Batas ini aturan praktis, bukan hukum: karakter ikatan sebenarnya kontinu.

Struktur Lewis dan muatan formal

Langkah menggambar struktur Lewis: (1) hitung jumlah total elektron valensi (tambah untuk anion, kurangi untuk kation); (2) letakkan atom pusat (umumnya yang paling sedikit jumlahnya dan bukan H); (3) hubungkan dengan ikatan tunggal; (4) lengkapi oktet atom terluar; (5) bila elektron kurang, bentuk ikatan rangkap. Muatan formal membantu memilih struktur yang paling masuk akal:

FC = V − N − B2V = elektron valensi atom bebas, N = elektron nonikatan, B = elektron ikatan

Beberapa molekul memiliki beberapa struktur Lewis sah yang hanya berbeda posisi elektron (resonansi), misalnya ozon, ion nitrat, dan benzena; struktur sebenarnya adalah hibrida resonansi. Pengecualian oktet meliputi molekul kekurangan elektron (BF₃), oktet diperluas (PCl₅, SF₆), dan radikal bebas (NO). Makin banyak ikatan antara dua atom, makin pendek dan kuat: energi ikatan C–C, C=C, dan C≡C kira-kira 346, 614, dan 839 kJ/mol (Housecroft & Sharpe, 2018).

Teori VSEPR dan hibridisasi

Valence shell electron pair repulsion menyatakan bahwa pasangan elektron di sekitar atom pusat (pasangan ikatan maupun pasangan bebas) saling tolak sejauh mungkin. Bentuk molekul adalah posisi atom, sedangkan pasangan bebas menentukan bentuk geometri tetapi tidak terlihat. Pasangan bebas menolak lebih kuat sehingga menyempitkan sudut ikatan (CH₄ 109,5°, NH₃ sekitar 107°, H₂O sekitar 104,5°).

Geometri molekul 3Dpilih tipe AXE
seret untuk memutar; bola besar redup = pasangan bebas
Geometri molekul–
Sudut ikatan–
Hibridisasi–
Contoh–

Kepolaran dan gaya antarmolekul

Molekul polar bila momen dipol ikatannya tidak saling meniadakan. CO₂ dan CCl₄ mengandung ikatan polar tetapi molekulnya nonpolar karena simetris; H₂O dan NH₃ polar. Kepolaran menentukan gaya antarmolekul: gaya London (dispersi) pada semua molekul dan makin kuat bila molekul besar, gaya dipol-dipol pada molekul polar, ikatan hidrogen bila H terikat pada N, O, atau F, serta gaya ion-dipol saat garam larut dalam air. Kekuatan gaya ini menentukan titik didih (H₂O 100 °C, sedangkan H₂S −60 °C) dan prinsip like dissolves like: zat polar larut dalam pelarut polar, zat nonpolar dalam pelarut nonpolar, yang mendasari kelarutan dan penembusan membran oleh obat.

Karakter ikatan dari keelektronegatifan
ΔEN–
Karakter–
Bagian δ⁻–

Contoh: O (3,44) dan H (2,20) memberi ΔEN 1,24, polar. Na (0,93) dan Cl (3,16) memberi 2,23, ionik.

04

Tata nama senyawa

Tata nama (nomenklatur) yang baku memungkinkan satu nama menunjuk tepat satu senyawa. Rujukannya adalah rekomendasi IUPAC untuk senyawa anorganik (Connelly dkk., 2005) dan organik (Favre & Powell, 2014). Di Indonesia, nama senyawa mengikuti pola IUPAC dengan akhiran bahasa Indonesia (-ida, -at, -it, -ana, -ena, -una).

Senyawa ionik

Namai kation lebih dulu, lalu anion. Logam golongan 1 dan 2 serta Al dan Zn hanya memiliki satu muatan umum, jadi tidak perlu angka Romawi; logam transisi dan beberapa lainnya yang memiliki lebih dari satu bilangan oksidasi ditulis dengan angka Romawi, misalnya besi(II) dan besi(III). Anion monoatomik berakhiran -ida (klorida, oksida, sulfida). Rumus ditentukan agar jumlah muatan nol: muatan kation dan anion saling dipertukarkan lalu disederhanakan.

Ion poliatomRumusIon poliatomRumus
AmoniumNH₄⁺HidroksidaOH⁻
Nitrat / nitritNO₃⁻ / NO₂⁻Sulfat / sulfitSO₄²⁻ / SO₃²⁻
KarbonatCO₃²⁻HidrogenkarbonatHCO₃⁻
FosfatPO₄³⁻AsetatCH₃COO⁻
PermanganatMnO₄⁻DikromatCr₂O₇²⁻
Klorat / kloritClO₃⁻ / ClO₂⁻SianidaCN⁻

Oksoanion berpasangan dinamai dengan akhiran -at (atom pusat dengan lebih banyak O) dan -it (lebih sedikit O). Bila ada lebih dari dua, awalan per- (paling banyak O) dan hipo- (paling sedikit) dipakai: perklorat ClO₄⁻, klorat ClO₃⁻, klorit ClO₂⁻, hipoklorit ClO⁻.

Perakit rumus dan nama ionik
Rumus–
Nama–

Senyawa molekul (kovalen) dan asam

Senyawa biner antara dua nonlogam dinamai dengan awalan jumlah atom: mono- (1; tidak dipakai untuk unsur pertama), di- (2), tri- (3), tetra- (4), penta- (5), heksa- (6), hepta- (7), okta- (8), nona- (9), dan deka- (10). Unsur kedua berakhiran -ida. Contoh: CO karbon monoksida, N₂O₅ dinitrogen pentaoksida. Asam biner: HCl asam klorida (dalam air). Asam okso: nama anion -at menjadi asam …at (H₂SO₄ asam sulfat, HNO₃ asam nitrat, H₃PO₄ asam fosfat), dan -it menjadi asam …it (H₂SO₃ asam sulfit). Garam hidrat menyebut jumlah air kristal: CuSO₄·5H₂O tembaga(II) sulfat pentahidrat.

Penamaan senyawa molekul
Rumus–
Nama–

Awalan hanya menyatakan jumlah atom, bukan menjamin senyawa itu ada. Banyak kombinasi di sini hanyalah latihan penamaan.

Senyawa organik: alkana, alkena, alkuna, dan gugus fungsi

Nama organik IUPAC disusun dari induk (jumlah karbon rantai terpanjang), akhiran (gugus fungsi utama), dan awalan (cabang dan substituen) dengan penomoran agar angka lokasi sekecil mungkin. Induk: met- (1), et- (2), prop- (3), but- (4), pent- (5), heks- (6), hept- (7), okt- (8), non- (9), dek- (10).

GolonganAkhiranContohRumus umum
Alkana-anaetanaCₙH₂ₙ₊₂
Alkena-enapropenaCₙH₂ₙ
Alkuna-unaetunaCₙH₂ₙ₋₂
Alkohol-oletanolCₙH₂ₙ₊₂O
Aldehida-aletanalCₙH₂ₙO
Keton-onpropanonCₙH₂ₙO
Asam karboksilatasam …-oatasam etanoatCₙH₂ₙO₂
Amina-aminaetanaminaCₙH₂ₙ₊₃N
Penamaan rantai lurus
Nama IUPAC–
Rumus molekul–
Massa molar–

Rantai terbuka (asiklik) dan rantai tertutup (siklik)

Berdasarkan kerangka karbonnya, senyawa organik terbagi dua. Pada senyawa asiklik (alifatik rantai terbuka) atom karbon tersusun sebagai rantai lurus atau bercabang dengan kedua ujung bebas. Pada senyawa siklik sebagian karbon membentuk cincin tertutup. Di dalam kedua kelompok, ikatan antarkarbon dapat jenuh (hanya ikatan tunggal) atau tak jenuh (ada ikatan rangkap dua atau tiga). Senyawa siklik dibagi lagi menjadi alisiklik (cincin nonaromatik, sifatnya mirip alifatik), aromatik (cincin planar dengan elektron π terdelokalisasi), dan heterosiklik (cincin yang memuat atom selain karbon, umumnya N, O, atau S) (McMurry, 2016; Brown dkk., 2018).

Senyawa organik (kerangka karbon) Asiklik (rantai terbuka) Siklik (rantai tertutup) Jenuh: alkanaCₙH₂ₙ₊₂butana, 2-metilpropana Tak jenuhalkena, alkuna2-butena, etuna Alisikliksikloalkanasikloheksana Aromatikbenzenatoluena, fenol Heterosiklikpiridinafurana, pirola
KelasCiriRumus umumContoh
Alkana (asiklik jenuh)Semua ikatan tunggal, rantai terbukaCₙH₂ₙ₊₂metana, butana, 2-metilpropana
Alkena (asiklik tak jenuh)Satu ikatan rangkap C=CCₙH₂ₙetena, propena, 2-butena
Alkuna (asiklik tak jenuh)Satu ikatan rangkap tiga C≡CCₙH₂ₙ₋₂etuna, propuna
Sikloalkana (alisiklik jenuh)Satu cincin, ikatan tunggalCₙH₂ₙsiklopropana sampai sikloheksana
SikloalkenaSatu cincin dan satu C=CCₙH₂ₙ₋₂sikloheksena
AromatikCincin planar, 4n + 2 elektron π terdelokalisasi (Hückel)benzena C₆H₆benzena, toluena, fenol, naftalena
HeterosiklikCincin dengan atom selain Cbervariasipiridina, furana, pirola, tiofena

Bagaimana mengetahui jumlah cincin dan ikatan rangkap dari rumus molekul saja? Hitung derajat ketidakjenuhan (DBE, double bond equivalent): setiap cincin dan setiap ikatan π menambah satu. Nilai DBE tidak menyatakan mana cincin dan mana ikatan rangkap, hanya jumlah totalnya.

DBE = 2C + 2 + N − H − X2X = jumlah halogen; O dan S tidak memengaruhi. Benzena C₆H₆: DBE = 4 (satu cincin + tiga C=C). Sikloheksana C₆H₁₂: DBE = 1
Galeri struktur 3Dasiklik, alisiklik, aromatik, heterosiklik
seret untuk memutar; putih = H, abu = C, merah = O, biru = N, hijau = Cl
Nama–
Rumus molekul–
Massa molar–
DBE (cincin + π)–

Alkana bercabang, gugus alkil, dan awalan lazim

Aturan IUPAC untuk rantai bercabang (Favre & Powell, 2014; Panico dkk., 1993) dapat diringkas dalam enam langkah:

  1. Cari rantai karbon kontinu terpanjang. Itulah induk (parent chain). Bila ada dua rantai sama panjang, pilih yang memiliki cabang lebih banyak. Rantai terpanjang tidak selalu digambar lurus: tikungan tidak mengubah panjangnya.
  2. Beri nomor dari ujung yang membuat locant cabang pertama (titik beda pertama) sekecil mungkin.
  3. Namai cabang sebagai gugus alkil: akhiran -ana diganti -il (metil, etil, propil).
  4. Kelompokkan cabang sejenis dengan di-, tri-, tetra-, dan ulangi locant tiap cabang (2,2-dimetil).
  5. Urutkan awalan menurut abjad. Awalan pengali (di-, tri-) tidak diperhitungkan, sedangkan iso- dan neo- diperhitungkan; sek- dan tert- diabaikan.
  6. Tulis nama dalam satu kata: angka dipisah koma, angka dan huruf dipisah tanda hubung, awalan melekat pada induk. Contoh: 2,2,4-trimetilpentana (isooktana, rujukan bilangan oktan 100) dan 3-etil-2-metilheksana (etil lebih dulu karena e mendahului m).
Gugus alkilStrukturNama sistematis
metil–CH₃metil
etil–CH₂CH₃etil
propil (n-propil)–CH₂CH₂CH₃propil
isopropil–CH(CH₃)₂1-metiletil
butil (n-butil)–CH₂CH₂CH₂CH₃butil
sek-butil–CH(CH₃)CH₂CH₃1-metilpropil
isobutil–CH₂CH(CH₃)₂2-metilpropil
tert-butil–C(CH₃)₃1,1-dimetiletil

Awalan lazim pada nama trivial: n- (normal, rantai lurus), iso- (gugus (CH₃)₂CH– di ujung rantai), dan neo- (gugus (CH₃)₃C– di ujung rantai). Karena itu, n-pentana, isopentana (2-metilbutana), dan neopentana (2,2-dimetilpropana) adalah tiga isomer C₅H₁₂.

Alkena, alkuna, dan stereokimia ikatan rangkap

Induk adalah rantai terpanjang yang memuat ikatan rangkap, walau bukan rantai terpanjang keseluruhan. Penomoran memberi locant terkecil bagi ikatan rangkap (bukan bagi cabang), dan locant ditulis di depan nama: 1-butena, 2-butena, 1-butuna. Dua ikatan rangkap diberi akhiran -diena (1,3-butadiena). Ikatan rangkap tidak dapat berputar, sehingga muncul isomer geometri: cis bila dua gugus sejenis berada pada sisi yang sama, trans bila berseberangan. Untuk alkena yang lebih rumit dipakai notasi E/Z berdasarkan prioritas Cahn-Ingold-Prelog: Z (zusammen) bila dua gugus berprioritas tertinggi sesisi, E (entgegen) bila berseberangan. Pusat kiral diberi deskriptor R atau S (Moss, 1996).

DeskriptorDipakai untukArti
cis / transAlkena sederhana, cincin berselang dua substituenSisi sama / sisi berlawanan terhadap bidang ikatan rangkap atau cincin
E / ZAlkena (semua tingkat substitusi)Berdasarkan prioritas CIP pada tiap karbon rangkap
R / SPusat kiral (empat gugus berbeda)Arah putaran gugus berprioritas 1 → 2 → 3 dengan gugus 4 menjauhi pengamat

Sikloalkana dan sikloalkena

Cincin dinamai dengan awalan siklo- di depan nama alkana berjumlah karbon sama: siklopropana, siklobutana, siklopentana, sikloheksana. Aturan penomoran (Favre & Powell, 2014):

  • Satu substituen: tanpa nomor, karena semua karbon cincin setara. Metilsikloheksana.
  • Dua substituen atau lebih: nomor 1 diberikan pada salah satu karbon bersubstituen, lalu arah dipilih agar locant seluruhnya terkecil. Bila masih sama, abjad menentukan: substituen yang abjadnya lebih awal mendapat nomor 1 (1-etil-2-metilsiklopentana).
  • Gugus utama (–OH, –NH₂) ditulis sebagai akhiran dan otomatis bernomor 1: sikloheksanol, 2-metilsikloheksanol.
  • Ikatan rangkap dalam cincin mendapat nomor 1 dan 2: sikloheksena, 3-metilsikloheksena.
  • Cincin dan rantai: menurut rekomendasi 2013, cincin diutamakan sebagai induk dibanding rantai; aturan lama memilih yang karbonnya lebih banyak. Cincin sebagai substituen bernama siklopropil, siklobutil, siklopentil, sikloheksil.
  • Stereokimia: dua substituen pada karbon berlainan menghasilkan isomer cis dan trans. Keduanya adalah senyawa berbeda dengan sifat fisika berbeda.
CincinSudut C–C–C bila datarTegangan cincinBentuk nyata
Siklopropana60°≈ 115 kJ/molDatar, ikatan C–C melengkung (bentuk "pisang")
Siklobutana90°≈ 110 kJ/molSedikit melipat
Siklopentana108°≈ 26 kJ/molAmplop yang bergoyang
Sikloheksana120°≈ 0 kJ/molKursi (sudut ≈ 111°), tanpa tegangan

Sikloheksana berada hampir seluruhnya dalam konformasi kursi. Dua belas atom H terbagi enam aksial (sejajar sumbu cincin, berganti atas dan bawah) dan enam ekuatorial (mengarah keluar di sekitar bidang cincin). Pembalikan cincin (ring flip) menukar keduanya. Substituen besar lebih suka ekuatorial karena pada posisi aksial ia bertabrakan dengan dua H aksial pada karbon ke-3 dan ke-5 (interaksi 1,3-diaksial; sekitar 7,6 kJ/mol untuk metil) (Brown dkk., 2018).

Perakit struktur dan nama IUPACrantai terbuka, cincin tertutup, benzena
seret untuk memutar; ubah jumlah karbon, substituen, dan posisinya
Nama IUPAC–
Nama lazim–
Rumus molekul–
Massa molar–
DBE–

Aromatik: benzena, turunannya, dan awalan orto, meta, para

Benzena (C₆H₆) adalah cincin planar enam karbon sp² dengan enam elektron π yang terdelokalisasi di atas dan di bawah cincin; kelipatan 4n + 2 elektron π (n = 1) menjelaskan kestabilan istimewanya (aturan Hückel). Semua ikatan C–C sama panjang (139 pm), di antara ikatan tunggal (154 pm) dan rangkap (134 pm). Karena kestabilan aromatik, benzena lebih suka bereaksi substitusi daripada adisi (Clayden dkk., 2012).

  • Monosubstitusi: nama substituen + benzena (klorobenzena, nitrobenzena). Beberapa nama trivial diterima IUPAC dan dipakai sebagai induk: toluena (metilbenzena), fenol (hidroksibenzena), anilina (benzenamina), asam benzoat, benzaldehida, stirena.
  • Disubstitusi: dapat memakai locant (1,2; 1,3; 1,4) atau awalan: orto (o-, posisi 1,2 bertetangga), meta (m-, 1,3, berselang satu karbon), para (p-, 1,4, berseberangan). Awalan o/m/p lazim dipakai hanya untuk disubstitusi.
  • Tiga substituen atau lebih: wajib memakai locant. Bila ada induk trivial (toluena, fenol, anilina), substituen utama diberi nomor 1 (2,4,6-trinitrotoluena).
  • Awalan fenil dan benzil: fenil adalah C₆H₅– (cincinnya sendiri), benzil adalah C₆H₅CH₂–. Keduanya sering tertukar.
  • Polisiklik: cincin yang berbagi ikatan, misalnya naftalena (dua cincin), antrasena, dan fenantrena.
Nama lazimNama IUPACPolaCatatan
o-xilena1,2-dimetilbenzenaortoPelarut; m- dan p-xilena adalah isomernya
katekol1,2-benzenadiolortoGugus katekol pada dopamin dan adrenalin
resorsinol1,3-benzenadiolmetaAntiseptik dan keratolitik topikal
hidrokuinon1,4-benzenadiolparaAntioksidan; agen depigmentasi topikal
asam salisilatasam 2-hidroksibenzoatortoPrekursor aspirin
PABAasam 4-aminobenzoatparaAnalog struktur bagi sulfonamida; bahan sintesis folat bakteri
parasetamolN-(4-hidroksifenil)asetamidaparaCincin benzena para-terdisubstitusi
TNT2,4,6-trinitrotoluena2,4,6Tiga substituen: toluena sebagai induk, CH₃ = C1

Senyawa heterosiklik

Pada heterosiklik, satu atau lebih karbon cincin digantikan heteroatom (N, O, S). Heteroatom mendapat nomor 1, dan penomoran berlanjut agar locant substituen terkecil. Cincin heterosiklik sangat lazim pada obat dan biomolekul karena heteroatom menyediakan pasangan elektron bebas (akseptor ikatan hidrogen, tapak protonasi) dan mengatur kelarutan.

CincinRumusHeteroatomContoh pada obat atau biomolekul
PiridinaC₅H₅NNNikotinamida (vitamin B₃), isoniazid
PirolaC₄H₅NN–HHeme dan klorofil (porfirin)
FuranaC₄H₄OOFurosemida, ranitidina
TiofenaC₄H₄SSKlopidogrel (tienopiridina)
ImidazolaC₃H₄N₂2 NHistidin, histamin, metronidazol
PirimidinaC₄H₄N₂2 NSitosin, timin, urasil, 5-fluorourasil
IndolaC₈H₇NN–HTriptofan, serotonin
PurinaC₅H₄N₄4 NAdenin, guanin, kafein

Urutan prioritas gugus fungsi dalam penamaan

Bila sebuah molekul memiliki beberapa gugus fungsi, hanya satu yang menjadi gugus utama (ditulis sebagai akhiran); yang lain menjadi awalan. Gugus utama dipilih menurut daftar prioritas berikut, dari tertinggi ke terendah (Favre & Powell, 2014).

PrioritasGugusAkhiran (utama)Awalan (bukan utama)
1Asam karboksilatasam …-oatkarboksi-
2Ester…-oat (alkil)alkoksikarbonil-
3Amida…-amidakarbamoil-
4Nitril…-nitrilsiano-
5Aldehida…-alokso- (formil-)
6Keton…-onokso-
7Alkohol, fenol…-olhidroksi-
8Amina…-aminaamino-
9Alkena, alkuna-ena, -una(bagian induk)
10Eter, halogen, nitro(tidak ada)alkoksi-, kloro-/bromo-/fluoro-, nitro-

Contoh: HOCH₂CH₂COOH memiliki –OH dan –COOH. Asam karboksilat lebih tinggi sehingga induknya asam propanoat dan –OH menjadi awalan: asam 3-hidroksipropanoat. Contoh lain, asam salisilat: –COOH utama pada induk benzena, sehingga asam 2-hidroksibenzoat.

Tata nama anorganik tambahan

JenisAturanContoh
Asam binerasam + nama anion berakhiran -ida (dalam larutan air)HCl asam klorida; HBr asam bromida
Asam oksoasam + nama oksoanion (-at atau -it)H₂SO₄ asam sulfat; HNO₂ asam nitrit; HClO₄ asam perklorat
Basalogam + hidroksidaNaOH natrium hidroksida; Ca(OH)₂ kalsium hidroksida
Garam normalkation + anionNa₂SO₄ natrium sulfat
Garam asammenyebut hidrogen yang tersisa pada anionNaHCO₃ natrium hidrogenkarbonat; Ca(H₂PO₄)₂ kalsium dihidrogenfosfat
Peroksida dan hidridaperoksida O₂²⁻; hidrida H⁻H₂O₂ hidrogen peroksida; NaH natrium hidrida
Garam hidratgaram + awalan jumlah + hidratCuSO₄·5H₂O tembaga(II) sulfat pentahidrat
Kation poliatomnama khususNH₄⁺ amonium; H₃O⁺ hidronium; Hg₂²⁺ raksa(I)
Senyawa koordinasiligan (abjad, dengan di-, tri-, tetra-) lalu logam dengan bilangan oksidasi; anion kompleks berakhiran -at[Cu(NH₃)₄]SO₄ tetraaminatembaga(II) sulfat; K₄[Fe(CN)₆] kalium heksasianoferat(II); cisplatin cis-diamindikloroplatina(II)

Pada senyawa koordinasi, nama ligan: NH₃ = amina (amina), H₂O = akuo, Cl⁻ = kloro, CN⁻ = siano, OH⁻ = hidrokso. Bilangan koordinasi logam dan geometri (oktahedral, persegi planar) menentukan jumlah ligan (Connelly dkk., 2005; Housecroft & Sharpe, 2018). Cisplatin, obat antikanker, adalah kompleks persegi planar Pt(II) dengan dua NH₃ dan dua Cl yang cis; isomer trans-nya tidak aktif sebagai antikanker.

Latihan: nama ke rumus

–

Latihan: nama IUPAC rantai, cincin, dan benzenasoal acak, jawaban dihitung dari aturan

–

05

Mol & stoikiometri

Mol adalah satuan jumlah zat: 1 mol mengandung tepat 6,022 140 76 × 10²³ entitas elementer (atom, molekul, ion) (BIPM, 2019). Massa molar M (g/mol) secara numerik sama dengan massa atom atau massa molekul relatif. Dengan massa molar, jumlah zat, massa, dan jumlah partikel saling dikonversi:

n = mM     N = n × NAcontoh: M(H₂O) = 2 × 1,008 + 15,999 = 18,015 g/mol

Komposisi persen massa sebuah unsur dalam senyawa adalah (jumlah atom × Ar) / Mr × 100%. Rumus empiris adalah perbandingan atom paling sederhana, rumus molekul adalah rumus sebenarnya (kelipatan bilangan bulat dari rumus empiris). Glukosa C₆H₁₂O₆ memiliki rumus empiris CH₂O.

Kalkulator mol
Massa molar–
Jumlah mol–
Jumlah partikel–

Persamaan reaksi dan penyetaraan

Persamaan reaksi kimia menyatakan pereaksi dan hasil reaksi. Karena atom tidak tercipta atau musnah, jumlah tiap atom di kiri harus sama dengan di kanan; koefisien ditambahkan di depan rumus (subskrip tidak boleh diubah). Koefisien menyatakan perbandingan mol, sehingga 2 H₂ + O₂ → 2 H₂O berarti 2 mol H₂ bereaksi dengan 1 mol O₂ membentuk 2 mol H₂O.

Penyetaraan persamaanubah koefisien sampai semua atom seimbang

Pereaksi pembatas dan rendemen

Pereaksi yang habis lebih dulu disebut pereaksi pembatas dan menentukan hasil maksimum (rendemen teoretis). Cara menentukannya: ubah massa tiap pereaksi menjadi mol, bagi dengan koefisien, dan pilih nilai terkecil. Rendemen persen membandingkan hasil nyata dengan teoretis.

% rendemen = hasil nyatahasil teoretis × 100%sintesis aspirin: 2,00 g asam salisilat (138,12 g/mol) → 0,01448 mol → 2,61 g aspirin teoretis (180,16 g/mol)
Pereaksi pembatas
30 g
20 g
Pembatas–
Hasil teoretis–
Hasil nyata–
Sisa pereaksi lain–
06

Larutan & konsentrasi

Larutan adalah campuran homogen zat terlarut dan pelarut. Konsentrasi dapat dinyatakan dengan beberapa cara, dan pilihan satuannya bergantung pada keperluan:

UkuranDefinisiPemakaian
Molaritas Mmol zat / L larutanStoikiometri larutan, titrasi
Molalitas mmol zat / kg pelarutSifat koligatif (tidak bergantung suhu)
% b/vg zat / 100 mL larutanSediaan farmasi (NaCl 0,9%)
% b/bg zat / 100 g larutanSalep, larutan pekat
ppmmg zat / kg (atau / L untuk larutan encer dalam air)Kontaminan, jejak
Fraksi mol xmol zat / mol totalTekanan uap, gas

Pengenceran tidak mengubah jumlah zat terlarut, sehingga mol sebelum sama dengan mol sesudahnya:

C₁V₁ = C₂V₂satuan konsentrasi dan volume harus konsisten di kedua sisi
Kalkulator konsentrasi
Molaritas–
% b/v–
Osmolaritas ideal–

PengenceranC₁V₁ = C₂V₂
C₂–
Faktor pengenceran–
Air yang ditambahkan–

Sifat koligatif

Sifat koligatif hanya bergantung pada jumlah partikel zat terlarut, bukan jenisnya: penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmosis. Untuk zat terlarut nonvolatil:

ΔTb = i Kb m    ΔTf = i Kf m    π = i M R TKb air = 0,512 K kg/mol, Kf air = 1,86 K kg/mol; i = faktor van 't Hoff (jumlah partikel per satuan rumus)

Contoh farmasi: infus NaCl 0,9% b/v (9 g/L, Mr = 58,44) berisi 0,154 mol/L, sehingga osmolaritas ideal sekitar 2 × 154 = 308 mOsm/L, mendekati osmolalitas plasma (sekitar 275–295 mOsm/kg), sehingga disebut isotonik (Sinko, 2023).

Sifat koligatif air
Titik didih–
Titik beku–
Tekanan osmosis (25 °C, M ≈ m)–

Larutan nyata menyimpang dari nilai ideal pada konsentrasi tinggi karena interaksi antar ion.

07

Gas

Gas mengisi seluruh wadahnya, mudah dimampatkan, dan keadaannya dijelaskan oleh empat variabel: tekanan P, volume V, suhu mutlak T, dan jumlah zat n. Hukum-hukum gas lama adalah kasus khusus satu persamaan:

HukumTetapHubungan
Boylen, TPV = konstan
Charlesn, PV/T = konstan
Gay-Lussacn, VP/T = konstan
AvogadroP, TV/n = konstan
Gas idealPV = nRT
PV = nRT    R = 0,082 057 L atm mol⁻¹ K⁻¹ = 8,314 J mol⁻¹ K⁻¹suhu harus dalam kelvin; pada STP IUPAC (273,15 K, 100 kPa) volume molar gas ideal 22,711 L/mol

Hukum Dalton: tekanan total campuran gas sama dengan jumlah tekanan parsial tiap komponen, Pi = xi Ptotal. Hukum Graham: laju efusi berbanding terbalik dengan akar massa molar. Gas nyata menyimpang pada tekanan tinggi dan suhu rendah karena volume molekul dan gaya tarik antarmolekul; koreksinya persamaan van der Waals. Teori kinetik gas, siklus mesin kalor, dan energi dibahas lebih lanjut di materi Fisika Termodinamika.

Hukum gas
Tekanan P–
Setara–

Tekanan parsial (Dalton)udara kering, tekanan total 101,325 kPa
P(O₂)–
P(N₂ dan lainnya)–

Oksigen medis dan hiperbarik memakai prinsip ini: menaikkan tekanan total atau fraksi O₂ menaikkan tekanan parsial O₂.

08

Laju & kesetimbangan

Laju reaksi

Laju reaksi menyatakan perubahan konsentrasi per satuan waktu. Hukum laju menghubungkannya dengan konsentrasi: laju = k[A]m, dengan orde m ditentukan lewat percobaan, bukan dari koefisien. Hukum laju terintegrasi dan waktu paruh:

OrdeKonsentrasi terhadap waktuWaktu paruhGaris lurus
0[A] = [A]₀ − kt[A]₀ / 2k[A] vs t
1[A] = [A]₀ e−ktln 2 / kln[A] vs t
21/[A] = 1/[A]₀ + kt1 / (k[A]₀)1/[A] vs t

Menurut persamaan Arrhenius, tetapan laju naik secara eksponensial dengan suhu dan turun dengan energi aktivasi Ea. Katalis mempercepat reaksi dengan jalur berenergi aktivasi lebih rendah, tanpa ikut habis dan tanpa mengubah posisi kesetimbangan.

k = A e−Ea/RT    ln k₂k₁ = EaR T₂ − T₁T₁T₂
Kinetika dan suhu
Waktu paruh–
k naik tiap +10 K (dari 298 K)–

Kesetimbangan kimia

Reaksi reversibel mencapai kesetimbangan dinamis saat laju maju sama dengan laju balik; konsentrasi tidak berubah, tetapi reaksi tetap berlangsung. Untuk aA + bB ⇌ cC + dD:

Kc = [C]c[D]d[A]a[B]b    Kp = Kc(RT)Δn    ΔG° = −RT ln Kpadatan dan pelarut murni tidak ditulis; K hanya bergantung pada suhu

Prinsip Le Chatelier: sistem yang kesetimbangannya diganggu bergeser untuk mengurangi gangguan itu. Menambah pereaksi menggeser ke hasil; menaikkan tekanan menggeser ke sisi dengan mol gas lebih sedikit; menaikkan suhu menggeser ke arah endotermik (K reaksi eksotermik turun). Katalis mempercepat tercapainya kesetimbangan tetapi tidak mengubah K. Perbandingan Q (kuosien reaksi) dengan K menunjukkan arah: Q < K bergeser ke hasil, Q > K ke pereaksi.

A ⇌ B menuju kesetimbangantambahkan A saat sudah setimbang
K = k maju / k balik–
Q saat gangguan–
Arah pergeseran–
09

Asam, basa & pH

Menurut Arrhenius, asam menghasilkan H⁺ dan basa menghasilkan OH⁻ dalam air. Menurut Brønsted-Lowry, asam adalah donor proton dan basa adalah akseptor proton; setiap asam memiliki basa konjugat (HA/A⁻). Menurut Lewis, asam menerima pasangan elektron dan basa memberikannya. Air bersifat amfoter dan terionisasi sedikit: Kw = [H⁺][OH⁻] = 1,0 × 10⁻¹⁴ pada 25 °C.

pH = −log[H⁺]    pH + pOH = 14,00 (25 °C)    Ka = [H⁺][A⁻][HA]secara tegas pH mengacu pada aktivitas H⁺; pada larutan encer konsentrasi dipakai sebagai pendekatan

Asam kuat (HCl, HBr, HI, HNO₃, HClO₄, dan H₂SO₄ untuk proton pertama) terionisasi hampir sempurna, jadi [H⁺] ≈ C. Asam lemah terionisasi sebagian; untuk larutan dengan C jauh lebih besar dari Ka, [H⁺] ≈ √(KaC). Larutan penyangga (buffer) terdiri atas asam lemah dan basa konjugatnya, dan menahan perubahan pH. Persamaan Henderson-Hasselbalch:

pH = pKa + log [A⁻][HA]kapasitas penyangga terbesar saat pH = pKa (rasio 1:1) dan efektif kira-kira dalam pKa ± 1
Kalkulator pH
pH–
[H⁺]–
Persen terionisasi–

Kurva titrasi

Titrasi menambahkan titran dengan konsentrasi diketahui sampai analit tepat bereaksi (titik ekuivalen). Titik akhir dikenali dengan indikator yang berubah warna di dekat pH titik ekuivalen: fenolftalein (rentang 8,2–10,0), bromtimol biru (6,0–7,6), metil jingga (3,1–4,4). Pada titrasi asam lemah dengan basa kuat, pH titik ekuivalen di atas 7 karena basa konjugat terhidrolisis, dan daerah penyangga muncul sebelum titik ekuivalen.

Titrasi dengan NaOH 0,100 M
pH sekarang–
Titik ekuivalen–
Indikator cocok–

Contoh: 25,0 mL asam dititrasi dengan NaOH 0,100 M.

pH dan obat: pembagian ionisasi

Hanya bentuk tidak terionisasi yang menembus membran lipid dengan mudah. Untuk asam lemah, fraksi terionisasi = 1 / (1 + 10pKa−pH); untuk basa lemah, fraksi terionisasi = 1 / (1 + 10pH−pKa). Itulah sebabnya asam lemah seperti aspirin cenderung tidak terionisasi di lambung (pH 1–2) dan basa lemah seperti lidokain lebih banyak terionisasi di pH asam (Sinko, 2023).

Ionisasi obat menurut pH
Terionisasi–
Tidak terionisasi–
pKa–

10

Redoks & elektrokimia

Oksidasi adalah kehilangan elektron (bilangan oksidasi naik) dan reduksi adalah penerimaan elektron (bilangan oksidasi turun); keduanya selalu berpasangan. Zat yang teroksidasi adalah reduktor, zat yang tereduksi adalah oksidator. Aturan bilangan oksidasi (BO), urut prioritas:

AturanBO
Unsur bebas0
Ion monoatomik= muatan ion
Jumlah BO dalam senyawa netral0 (ion poliatom: = muatan ion)
Logam golongan 1 / golongan 2 / Al+1 / +2 / +3
Fluor−1
Hidrogen+1 (−1 dalam hidrida logam)
Oksigen−2 (−1 dalam peroksida)
Halogen lain−1 (kecuali bersama O atau F)

Contoh: dalam KMnO₄, BO K = +1, O = −2 (4 atom, total −8), sehingga Mn = +7. Penyetaraan reaksi redoks dengan metode setengah reaksi: pisahkan oksidasi dan reduksi, setarakan atom selain H dan O, setarakan O dengan H₂O, setarakan H dengan H⁺ (suasana basa tambahkan OH⁻), setarakan muatan dengan elektron, samakan jumlah elektron, lalu jumlahkan.

Sel elektrokimia

Sel volta (galvani) mengubah energi kimia menjadi listrik secara spontan; sel elektrolisis memakai listrik untuk reaksi tak spontan. Di kedua sel, oksidasi terjadi di anode dan reduksi di katode. Potensial sel standar dihitung dari potensial reduksi standar, dan terkait dengan energi bebas dan tetapan kesetimbangan:

E°sel = E°katode − E°anode    ΔG° = −nFE°    ln K = nFE°RTF = 96 485 C/mol; pada 25 °C, log K = nE° / 0,0592
E = E° − RTnF ln Q = E° − 0,0592n log Q (25 °C)persamaan Nernst; elektroda gelas pH memanfaatkan respons ≈ 59 mV per satuan pH
Sel galvanipilih dua setengah sel
E°sel–
E sel (Nernst)–
ΔG°–
log K–

Hukum Faraday menghubungkan arus dengan massa yang diendapkan: m = (Q · M) / (n · F), dengan Q = I · t. Dalam farmasi, reaksi redoks menjelaskan antioksidan (vitamin C, sulfit) yang melindungi obat, serta degradasi oksidatif yang membatasi masa simpan.

11

Kimia organik dasar

Kimia organik mempelajari senyawa karbon. Karbon membentuk empat ikatan kovalen, saling berikatan membentuk rantai, cincin, dan ikatan rangkap, sehingga jumlah senyawanya sangat besar. Sifat senyawa ditentukan oleh kerangka karbon dan gugus fungsi, yaitu kelompok atom yang menentukan reaktivitas.

Gugus fungsiStrukturContoh molekul kecilSifat umum
AlkoholR–OHetanolPolar, ikatan hidrogen, larut dalam air bila rantai pendek
FenolAr–OHfenolAsam lemah, mudah teroksidasi
EterR–O–R'dietil eterKurang polar, tidak menyumbang ikatan hidrogen
AldehidaR–CHOetanalMudah dioksidasi menjadi asam karboksilat
KetonR–CO–R'propanonPolar, tidak mudah dioksidasi
Asam karboksilatR–COOHasam etanoatAsam lemah (pKa sekitar 4–5)
EsterR–COO–R'etil etanoatHidrolisis menghasilkan asam dan alkohol
AminaR–NH₂etanaminaBasa lemah, terprotonasi pada pH asam
AmidaR–CONH₂etanamidaStabil, banyak ada dalam peptida dan obat
HaloalkanaR–XkloroetanaPelarut, reaktif pada substitusi

Isomer memiliki rumus molekul sama tetapi struktur berbeda: isomer struktur (kerangka, posisi, atau gugus fungsi), isomer geometri (cis dan trans pada ikatan rangkap), dan stereoisomer optik pada karbon kiral. Isomer optik sering memiliki aktivitas biologis berbeda; pada ibuprofen, enansiomer (S) adalah yang berefek farmakologis utama. Reaksi organik dasar: substitusi (satu atom atau gugus digantikan), adisi (menambahkan pada ikatan rangkap), eliminasi (membentuk ikatan rangkap), esterifikasi (asam + alkohol ⇌ ester + air), dan hidrolisis (ester atau amida + air).

Asam salisilat + anhidrida asetat → asam asetilsalisilat (aspirin) + asam asetatasetilasi gugus −OH fenol membentuk ester
Penampil molekul 3Dbola dan batang
seret untuk memutar; putih = H, abu = C, merah = O, biru = N
Molekul–
Rumus–
Massa molar–
Hibridisasi C–

Gugus fungsi pada obatpilih gugus

Ini contoh edukatif. Banyak obat memuat beberapa gugus sekaligus, dan gugus tersebut berkaitan dengan kelarutan, ionisasi, metabolisme, dan reaksi dengan target.

12

Inti atom, gaya fundamental & kuantum

Sampai bab sebelumnya inti atom diperlakukan sebagai titik bermuatan +Ze. Bab ini membuka inti itu: gaya apa yang mengikatnya, mengapa sebagian inti meluruh, dan di mana mekanika kuantum masuk. Batasnya penting untuk diketahui. Gaya kuat, gaya lemah, dan peluruhan inti adalah fisika (fisika inti dan partikel); mekanika kuantum adalah teori fisika, dan kimia kuantum menerapkannya untuk menjelaskan orbital dan ikatan. Kimia biasa hanya melibatkan elektron luar, sedangkan inti dianggap tetap. Pengecualiannya, radiokimia dan radiofarmasi, benar-benar memakai peluruhan inti.

Empat gaya fundamental

Seluruh interaksi di alam semesta berasal dari empat gaya fundamental (Griffiths, 2008; Workman dkk., 2022). Perbedaan kekuatannya sangat besar, sehingga pada skala atom tiga gaya pertama sajalah yang menentukan.

GayaPembawaKekuatan relatifJangkauanBekerja pada
Kuatgluon1≈ 10⁻¹⁵ mquark; nukleon (gaya sisa)
Elektromagnetikfoton≈ 7 × 10⁻³tak terhinggapartikel bermuatan
LemahW⁺, W⁻, Z⁰≈ 10⁻⁶≈ 10⁻¹⁸ mquark dan lepton
Gravitasigraviton (hipotetik)≈ 10⁻³⁸tak terhinggasemua yang berenergi

Kekuatan relatif hanya perbandingan kasar antara dua proton pada jarak sekitar 1 fm; nilainya bergantung pada skala jarak dan cara mendefinisikan "kekuatan". Yang diingat adalah urutan besarnya: gaya listrik antara dua proton sekitar 10³⁶ kali gaya gravitasinya.

Perbandingan gaya fundamentalpilih gaya
Gaya–
Kekuatan relatif–
Pembawa–
Jangkauan–

Bekerja pada:

Inti atom dan gaya nuklir kuat

Inti terdiri atas nukleon: proton (muatan +1) dan neutron (netral). Jumlah proton Z, jumlah neutron N, dan nomor massa A = Z + N. Notasi nuklida: AZX. Isotop memiliki Z sama (¹²C, ¹⁴C), isobar memiliki A sama (¹⁴C, ¹⁴N), dan isoton memiliki N sama. Tiap nukleon tersusun atas tiga quark: proton uud (muatan 2/3 + 2/3 − 1/3 = +1) dan neutron udd (2/3 − 1/3 − 1/3 = 0). Massa tiga quark itu hanya sekitar 1% massa proton (938,27 MeV/c²); sisanya adalah energi interaksi gaya kuat (Workman dkk., 2022).

Gaya yang mengikat quark adalah gaya kuat sejati, dibawa oleh gluon dan bekerja pada "muatan warna" (merah, hijau, biru; hanya nama, bukan warna sebenarnya). Quark tidak pernah teramati bebas (confinement). Gaya antarnukleon yang menyatukan inti adalah sisa gaya kuat itu, mirip gaya van der Waals yang merupakan sisa gaya listrik antarmolekul netral. Menurut Yukawa (1935) gaya sisa ini dapat dipandang sebagai pertukaran meson π, sehingga jangkauannya ≈ ħ/(mπc) ≈ 1,4 fm (Krane, 1988; Povh dkk., 2015). Sifat pentingnya:

  • Jangkauan pendek: hanya nukleon bertetangga yang berinteraksi. Itulah sebabnya jari-jari inti R ≈ r₀A1/3 (r₀ ≈ 1,2 fm) dan kerapatannya hampir konstan, sekitar 2 × 10¹⁷ kg/m³.
  • Jenuh: tiap nukleon berikatan dengan sejumlah terbatas tetangga, sehingga energi ikat per nukleon hampir konstan (sekitar 8 MeV) dan bukan naik terus dengan A.
  • Tak bergantung muatan: p–p, n–n, dan p–n hampir sama kuat. Tolakan Coulomb antarproton menambah ketidakstabilan dan bersifat jangkauan jauh, sehingga inti berat memerlukan lebih banyak neutron sebagai "perekat".
Inti atom 3D sampai ke tingkat quarkatur Z dan N, lalu zoom ke proton atau neutron
seret untuk memutar; merah = proton, abu = neutron
Nuklida–
Nomor massa; N/Z–
Jari-jari inti–
Energi ikat/nukleon–
Tolakan Coulomb–

Cacat massa dan energi ikat

Massa inti selalu lebih kecil daripada jumlah massa nukleon penyusunnya. Selisihnya (cacat massa) berubah menjadi energi ikat menurut E = mc² (Krane, 1988). Satuan massa atom 1 u setara 931,494 MeV/c².

B = [ Z·m(1H) + N·mn − m(AX) ] c²    ⁴He: Δm = 0,030378 u, B = 28,30 MeV (7,07 MeV per nukleon)massa atom (bukan massa inti) dipakai agar massa elektron saling meniadakan

Energi ikat nuklir berorde MeV, sedangkan ikatan kimia berorde eV (ikatan C–C ≈ 3,6 eV atau 346 kJ/mol). Selisih sekitar sejuta kali ini menjelaskan mengapa reaksi kimia tidak mengubah identitas unsur, sedangkan reaksi nuklir mengubahnya dan melepas energi yang jauh lebih besar. Rumus massa semiempiris (Weizsäcker) merangkum kontribusi volume, permukaan, Coulomb, asimetri N–Z, dan pasangan:

B = aVA − aSA2/3 − aC Z(Z−1)A1/3 − aA (A−2Z)²A ± 34A3/4aV = 15,5; aS = 16,8; aC = 0,72; aA = 23,0 (MeV); pasangan: + genap-genap, − ganjil-ganjil (Krane, 1988)
Energi ikat per nukleongeser nomor massa A
B/A (rumus)–
Energi ikat total–

Puncak sekitar 8,8 MeV per nukleon pada Fe-56 dan Ni-62 (data pengukuran: Wang dkk., 2021). Contoh energi: fusi D + T → ⁴He + n melepas 17,6 MeV; fisi satu inti U-235 melepas sekitar 200 MeV.

Gaya nuklir lemah dan peluruhan radioaktif

Gaya lemah adalah satu-satunya gaya yang dapat mengubah jenis (flavor) quark. Quark down dapat berubah menjadi up dengan memancarkan boson W⁻, yang segera meluruh menjadi elektron dan antineutrino. Di tingkat nukleon, ini berarti n → p + e⁻ + ν̄e (peluruhan beta). Mediatornya bermassa besar (W ≈ 80 GeV/c², Z ≈ 91 GeV/c²), sehingga jangkauannya sangat pendek dan lajunya lambat: neutron bebas bertahan rata-rata sekitar 878 s, bukan 10⁻²³ s seperti peluruhan yang dilakukan gaya kuat (Griffiths, 2008; Workman dkk., 2022).

PeluruhanProses intiPerubahan Z, AGaya yang bertanggung jawab
Alfa (α)AZX → A−4Z−2Y + 42HeZ − 2, A − 4Gaya kuat dan Coulomb (terowongan kuantum)
Beta minus (β⁻)n → p + e⁻ + ν̄eZ + 1, A tetapGaya lemah
Beta plus (β⁺)p → n + e⁺ + νeZ − 1, A tetapGaya lemah
Tangkapan elektron (EC)p + e⁻ → n + νeZ − 1, A tetapGaya lemah
Gamma (γ)inti* → inti + γtetapGaya elektromagnetik

Neutrino diusulkan Pauli (1930) karena pada peluruhan beta energi elektron bersifat kontinu: tanpa partikel ketiga, kekekalan energi dan momentum tampak dilanggar. Partikel ini baru teramati pada 1956. Bila energi tersedia kurang dari 2mec² = 1,022 MeV, β⁺ tidak mungkin dan inti hanya dapat menempuh tangkapan elektron.

Peluruhan radioaktif 3Dputar atau geser langkah demi langkah
merah = proton, abu = neutron, biru = elektron, oranye = positron, putih = neutrino, ungu = boson W, kuning = foton
Jenis–
Persamaan–

Hukum peluruhan, waktu paruh, dan aktivitas

Peluruhan satu inti bersifat acak, tetapi untuk jumlah besar peluang peluruhan per satuan waktu λ (tetapan peluruhan) konstan. Akibatnya jumlah inti turun secara eksponensial (Cherry dkk., 2012):

N = N₀ e−λt = N₀ (½)t/t½    t½ = ln 2λ    A = λNaktivitas A dalam becquerel (1 Bq = 1 peluruhan per sekon; 1 Ci = 3,7 × 10¹⁰ Bq); umur rata-rata τ = 1/λ = t½ / ln 2

Untuk radiofarmasi, yang berlaku adalah waktu paruh efektif, gabungan peluruhan fisik dan pengeluaran biologis dari tubuh: 1/teff = 1/tfisik + 1/tbiologis. Bila I-131 (t½ fisik 8,02 hari) memiliki waktu paruh biologis 80 hari, teff ≈ 7,3 hari. Pada prinsip perunut, jumlah zat yang diberikan sangat kecil: aktivitas 370 MBq F-18 hanya sekitar 0,1 ng, jauh di bawah dosis farmakologis.

Kurva peluruhan dan simulasi acakpilih radionuklida
Waktu nyata–
Aktivitas tersisa–
Fraksi tersisa–
Tetapan λ–
Massa zat setara–
Simulasi–

RadionuklidaWaktu paruhPeluruhanPemakaian
Tc-99m6,01 jamγ (140,5 keV)SPECT: tulang, jantung, tiroid
F-18109,8 menitβ⁺PET (fluorodeoksiglukosa)
Ga-6867,7 menitβ⁺PET peptida bertanda
I-1318,02 hariβ⁻, γTerapi tiroid
Lu-1776,65 hariβ⁻, γTerapi radioligan
Tl-20172,9 jamECPerfusi miokardium
P-3214,3 hariβ⁻Riset dan terapi tertentu
Co-605,27 tahunβ⁻, γRadioterapi eksternal, sterilisasi
C-14≈ 5730 tahunβ⁻Penanggalan, uji napas urea
Ra-2261600 tahunαSejarah radioterapi; deret uranium

Waktu paruh dari Kondev dkk. (2021); pemakaian klinis dari Cherry dkk. (2012).

Kestabilan inti dan pita kestabilan

Dari sekitar 3000 nuklida yang diketahui, hanya sekitar 250 stabil. Bila digambarkan sebagai N terhadap Z, nuklida stabil membentuk pita kestabilan. Inti ringan stabil pada N ≈ Z; makin berat, N/Z naik sampai sekitar 1,5 (Pb-208: 126/82) agar gaya kuat mengimbangi tolakan Coulomb. Hampiran lembahnya: Zstabil ≈ A / (1,98 + 0,0155 A2/3) (Krane, 1988).

  • Di atas pita (kelebihan neutron): cenderung β⁻ (N → P).
  • Di bawah pita (kelebihan proton): cenderung β⁺ atau EC (P → N).
  • Z > 83: semua radioaktif; cenderung α atau fisi spontan.
  • Genap-genap lebih stabil (pemasangan nukleon): sekitar 146 nuklida stabil bersifat genap-genap, dan hanya empat ganjil-ganjil (²H, ⁶Li, ¹⁰B, ¹⁴N). Bilangan ajaib 2, 8, 20, 28, 50, 82, 126 menandai kulit inti tertutup yang sangat stabil.
  • Unsur teknesium (Z = 43) dan prometium (Z = 61) tidak memiliki isotop stabil. Tc-99m dibuat dari generator Mo-99/Tc-99m.
Peta nuklidaN terhadap Z
Nuklida–
Z lembah untuk A ini–

Ini kecenderungan kasar dari posisi relatif terhadap lembah, bukan ramalan pasti: waktu paruh dan mode sebenarnya bergantung pada energi tersedia dan efek kulit inti.

Kuantum: fisika atau kimia?

Mekanika kuantum lahir dari fisika (Planck 1900, Einstein 1905, Bohr 1913, Schrödinger dan Heisenberg 1925–1926). Ia adalah teori fisika tentang perilaku materi dan energi pada skala atom. Kimia kuantum adalah penerapannya pada sistem kimia, sehingga ia juga disebut cabang kimia fisik atau fisika kimia. Dengan demikian, pertanyaan "kuantum itu fisika atau kimia" dijawab: teorinya fisika, penerapannya pada atom dan molekul adalah kimia.

TopikBidang utama
Gaya kuat, gaya lemah, quark, peluruhan betaFisika inti dan partikel
Postulat mekanika kuantum, persamaan SchrödingerFisika (teori)
Orbital atom, ikatan kimia, spektra molekulKimia kuantum (kimia fisik)
Radioaktivitas, radiofarmasi, penanggalan C-14Radiokimia (irisan kimia dan fisika)

Ide dasarnya (Atkins dkk., 2023; Griffiths & Schroeter, 2018):

  • Kuantisasi: energi atom hanya mengambil nilai tertentu; foton membawa E = hν = hc/λ (h = 6,626 070 15 × 10⁻³⁴ J s, nilai eksak SI; BIPM, 2019).
  • Dualisme gelombang-partikel: partikel bermomentum p memiliki panjang gelombang de Broglie λ = h/p; elektron berenergi 100 eV berpanjang gelombang sekitar 0,12 nm, sebanding dengan jarak antaratom.
  • Fungsi gelombang ψ: |ψ|² adalah rapat peluang menemukan partikel (aturan Born). Keadaan dan energi diperoleh dari persamaan Schrödinger Ĥψ = Eψ.
  • Ketidakpastian: Δx · Δp ≥ ħ/2; elektron tidak dapat jatuh ke inti karena akan memiliki ketidakpastian momentum yang sangat besar.
  • Spin dan larangan Pauli: dua elektron dalam satu orbital harus berspin berlawanan; inilah sumber tabel periodik.
Ĥψ = Eψ    λ = hp    En = −13,6 eVn² (hidrogen)energi ionisasi hidrogen 13,598 eV; tingkat terkuantisasi memberi spektrum garis

Relevansi bagi farmasi: spektrofotometri UV-Vis (transisi elektron), spektroskopi IR (getaran terkuantisasi), NMR dan MRI (spin inti ¹H = ½), fluoresensi, serta kimia komputasi (docking, DFT) untuk merancang obat. Efek terowongan kuantum menjelaskan peluruhan alfa dan sebagian perpindahan proton pada enzim.

Orbital atom hidrogen 3Dawan peluang |ψ|², warna = tanda ψ
seret untuk memutar; biru dan merah = fasa berlawanan, kuning = inti
Orbital–
Simpul–
Energi (H)–

Tingkat energi dan spektrum hidrogentransisi n tinggi → n rendah
Energi foton–
Panjang gelombang–
Daerah dan deret–
Warna kira-kira 

Partikel dalam kotak satu dimensikuantisasi akibat batas
Eₙ–
E₁–
ΔE ke n + 1–
λ foton–
Simpul–

✎

Latihan soal hitungan

Ketik jawaban numerik dalam satuan yang diminta (koma atau titik desimal boleh). Jawaban dinilai benar bila selisihnya kurang dari 2%. Gunakan massa atom: H 1,008; C 12,011; N 14,007; O 15,999; Na 22,990; Cl 35,45; dan R = 0,082057 L atm mol⁻¹ K⁻¹ atau 8,314 J mol⁻¹ K⁻¹.

Skor soal hitungan0 / 21
★

Ujian akhir

Lima belas soal pilihan ganda diambil acak dari seluruh bab. Jawaban baru diperiksa setelah Anda mengumpulkan. Batas lulus 70.

Belum dimulai

15 soal, tanpa batas waktu, skor terbaik tersimpan di peramban ini

§

Daftar pustaka

  1. Atkins, P., de Paula, J., & Keeler, J. (2023). Atkins' physical chemistry (12th ed.). Oxford University Press.
  2. Bureau International des Poids et Mesures. (2019). The International System of Units (SI) (9th ed.). BIPM. https://www.bipm.org/en/publications/si-brochure
  3. Brown, T. L., LeMay, H. E., Bursten, B. E., Murphy, C. J., Woodward, P. M., & Stoltzfus, M. W. (2018). Chemistry: The central science (14th ed.). Pearson.
  4. Cherry, S. R., Sorenson, J. A., & Phelps, M. E. (2012). Physics in nuclear medicine (4th ed.). Elsevier Saunders.
  5. Clayden, J., Greeves, N., & Warren, S. (2012). Organic chemistry (2nd ed.). Oxford University Press.
  6. Connelly, N. G., Damhus, T., Hartshorn, R. M., & Hutton, A. T. (Eds.). (2005). Nomenclature of inorganic chemistry: IUPAC recommendations 2005. RSC Publishing.
  7. Cordero, B., Gómez, V., Platero-Prats, A. E., Revés, M., Echeverría, J., Cremades, E., Barragán, F., & Alvarez, S. (2008). Covalent radii revisited. Dalton Transactions, (21), 2832–2838. https://doi.org/10.1039/b801115j
  8. Favre, H. A., & Powell, W. H. (2014). Nomenclature of organic chemistry: IUPAC recommendations and preferred names 2013. Royal Society of Chemistry.
  9. Flowers, P., Theopold, K., Langley, R., & Robinson, W. R. (2019). Chemistry 2e (2nd ed.). OpenStax. https://openstax.org/books/chemistry-2e
  10. Griffiths, D. (2008). Introduction to elementary particles (2nd rev. ed.). Wiley-VCH.
  11. Griffiths, D. J., & Schroeter, D. F. (2018). Introduction to quantum mechanics (3rd ed.). Cambridge University Press.
  12. Haynes, W. M. (Ed.). (2016). CRC handbook of chemistry and physics (97th ed.). CRC Press.
  13. Housecroft, C. E., & Sharpe, A. G. (2018). Inorganic chemistry (5th ed.). Pearson.
  14. Kondev, F. G., Wang, M., Huang, W. J., Naimi, S., & Audi, G. (2021). The NUBASE2020 evaluation of nuclear physical properties. Chinese Physics C, 45(3), 030001. https://doi.org/10.1088/1674-1137/abddae
  15. Krane, K. S. (1988). Introductory nuclear physics. Wiley.
  16. McMurry, J. (2016). Organic chemistry (9th ed.). Cengage Learning.
  17. Moss, G. P. (1996). Basic terminology of stereochemistry (IUPAC recommendations 1996). Pure and Applied Chemistry, 68(12), 2193–2222. https://doi.org/10.1351/pac199668122193
  18. Panico, R., Powell, W. H., & Richer, J.-C. (Eds.). (1993). A guide to IUPAC nomenclature of organic compounds: Recommendations 1993. Blackwell Scientific.
  19. Pauling, L. (1960). The nature of the chemical bond (3rd ed.). Cornell University Press.
  20. Povh, B., Rith, K., Scholz, C., Zetsche, F., & Rodejohann, W. (2015). Particles and nuclei: An introduction to the physical concepts (7th ed.). Springer.
  21. Prohaska, T., Irrgeher, J., Benefield, J., Böhlke, J. K., Chesson, L. A., Coplen, T. B., dkk. (2022). Standard atomic weights of the elements 2021 (IUPAC Technical Report). Pure and Applied Chemistry, 94(5), 573–600. https://doi.org/10.1515/pac-2019-0603
  22. Sinko, P. J. (Ed.). (2023). Martin's physical pharmacy and pharmaceutical sciences (8th ed.). Wolters Kluwer.
  23. Wang, M., Huang, W. J., Kondev, F. G., Audi, G., & Naimi, S. (2021). The AME 2020 atomic mass evaluation (II). Tables, graphs and references. Chinese Physics C, 45(3), 030003. https://doi.org/10.1088/1674-1137/abddaf
  24. Workman, R. L., dkk. (Particle Data Group). (2022). Review of particle physics. Progress of Theoretical and Experimental Physics, 2022(8), 083C01. https://doi.org/10.1093/ptep/ptac097